Pengoalahan Limbah Cair Industri

a. Sumber Air Limbah

 

Pada umumnya limbah berasal dari industri primer hasil dari pengolahan hutan. Limbah yang dihasilkan oleh industri pengolahan hutan berupa limbah cair yang berbahaya bagi keseimbangan lingkungan. Mungkin pada industri-industri besar, limbah cair yang dihasilkan sudah memenuhi syarat pengolahan limbah. Namun pada industri-industri kecil dan sedang, limbah cair yang dibuang sering kali masih dalam keadaan beracun sehingga membahayakan masyarakat.

Selain dihasilkan juga oleh industri-industri, air limbah juga banyak dihasilkan oleh sektor perumahan yang biasanya air limbah ini berasal dari limbah rumah tangga, hotel dan apartement. Air limbah yang dihasilkan dari rumah tangga juga tidak dapat disepelekan jumlahnya. Memang kalau dihitung secara per rumah tangga, air limbah yang dihasilkan tidak mengkhawatirkan. Namun, apabila seluruh jumlah air limbah yang dihasilkan dalam satu perumahan atau pemukiman tentu saja jumlahnya sangat banyak. Air limbah yang dihasilkan rumah tangga biasanya dari penggunaan detergen, pemutih pakaian dan sabun. Tidak hanya rumah tangga, air limbah juga dihasilkan dari tempat rekreasi, rumah sakit, perkantoran dan perdagangan. Dari air limbah yang dihasilkan dan dibuang ke saluran air tentu saja akan mencemari air sungai dan hal ini berakibat air yang dikonsumsi warga sekitar sungai sudah tentu terkontaminasi dengan limbah cair.

 

b. Jenis Pengolahan Limbah Cair

 

Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini.  Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:

1.    pengolahan secara fisika

2.    pengolahan secara kimia

3.    pengolahan secara biologi

Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.

 

1. Pengolahan secara Fisika

Pada umumnya pengolahan secara fisika snagat rumit dan memerlukan jangka waktu yang lama. Pengolahan ini dilakukan dengan cara penyaringan terhadap zat yang berukuran besar dan mudah mengendap. Setelah itu bagian suspensi yang mudah mengendap dipisahkan dengan cara pengendapan. Hal ini dilakukan dengan proses flotasi agar  limbah yang dibuang tidak  lagi mengandung lemak atau minyak sehingga tidak menyulitkan dalam proses selanjutnya. Flotasi juga dapat digunakan dalam penyaringan limbah yang mengandung lumpur. Adapun proses lainnya  yaitu proses penyaringan senyawa aromatik dan senyawa organik memanfaatkan sifat adsorbsi pada arang atau karbon aktif.

 

2. Pengolahan secara Kimia

Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan.  Penyisihan bahan-bahan tersebut pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.

Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit.  Endapan logam tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5.  Khusus untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau Na2S2O5).

Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat, aerasi, ozon hidrogen peroksida.

 

3. Pengolahan secara Biologi

Pengolahan secara biologi dinyatakn pengolahan yang paling efisien dan murah. Namun pada prosesnya dibutuhkan keahlian dan ketelitian yang baik. Akhir-akhir ini pengolahan limbah secara biologi telah dikembangkan dan diperluas.

Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:

1.    Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);

2.    Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).

Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi.  Proses lumpur aktif yang banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional, oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih sedikit.  Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek (4-6 jam).  Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.

Kolam oksidasi dan lagoon, baik yang diaerasi maupun yang tidak, juga termasuk dalam jenis reaktor pertumbuhan tersuspensi. Untuk iklim tropis seperti Indonesia, waktu detensi hidrolis selama 12-18 hari di dalam kolam oksidasi maupun dalam lagoon yang tidak diaerasi, cukup untuk mencapai kualitas efluen yang dapat memenuhi standar yang ditetapkan.  Di dalam lagoon yang diaerasi cukup dengan waktu detensi 3-5 hari saja.

Di dalam reaktor pertumbuhan lekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan dirinya. Berbagai modifikasi telah banyak dikembangkan selama ini, antara lain:

1.    trickling filter

2.    cakram biologi

3.    filter terendam

4.    reaktor fludisasi

Seluruh modifikasi ini dapat menghasilkan efisiensi penurunan BOD sekitar 80%-90%.

Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara biologi, proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1.        Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;

2.        Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.

Apabila BOD air buangan tidak melebihi 400 mg/l, proses aerob masih dapat dianggap lebih ekonomis dari anaerob.  Pada BOD lebih tinggi dari 4000 mg/l, proses anaerob menjadi lebih ekonomis.

Dalam prakteknya saat ini, teknologi pengolahan limbah cair mungkin tidak lagi sesederhana seperti dalam uraian di atas.  Namun pada prinsipnya, semua limbah yang dihasilkan harus melalui beberapa langkah pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan atau kembali dimanfaatkan dalam proses produksi

 

 

Daftar Pustaka

Santoso Budi, 1999, Ilmu Lingkungan Industri, Universitas Gunadarna, Depok.

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_5.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: